Bitcoin baru saja mengalami salah satu penurunan paling tajam dalam sejarahnya. Dalam waktu kurang dari seminggu, harga aset kripto paling populer ini anjlok hampir 30%, menyentuh level sekitar $60.000. Pergerakan ini terjadi begitu cepat hingga memicu berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar. Bukan hanya faktor makroekonomi atau sentimen pasar yang biasa, tapi ada sesuatu yang lebih dalam—seperti aksi jual besar-besaran dari entitas tak dikenal.
Banyak analis dan trader menduga bahwa di balik penurunan ini ada tangan-tangan besar yang bergerak di luar ekosistem kripto. Bisa jadi dari dana kedaulatan negara, bisa juga dari investor leverage yang terkena margin call. Yang jelas, gerakan ini tidak biasa. Tidak hanya Bitcoin yang terdampak, seluruh pasar aset berisiko ikut terseret turun. Sentimen investor langsung ambrol, dan likuiditas di berbagai bursa terasa tipis.
Spekulasi Penjual Misterius dan Unwind Carry Trade
Penurunan harga Bitcoin yang begitu drastis memicu berbagai teori di kalangan pelaku pasar. Salah satunya adalah adanya penjual besar yang menjual miliaran dolar Bitcoin dalam waktu singkat. Trader kripto terkenal, Flood, menyebut aksi jual ini sebagai yang paling ganas dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebutnya “tidak pandang bulu” dan “dipaksakan,” menandakan bahwa ini bukan gerakan biasa dari investor ritel atau institusi kripto.
Franklin Bi dari Pantera Capital menambahkan teori yang lebih spesifik. Ia menduga bahwa penjual ini adalah entitas besar berbasis di Asia, dengan sedikit rekanan yang fokus pada kripto. Karena itu, langkah-langkahnya tidak mudah terdeteksi oleh komunitas kripto. Bi menyebut bahwa kemungkinan besar, aksi ini dimulai dari penggunaan leverage di Binance, lalu diperburuk oleh unwind carry trade dan krisis likuiditas.
1. Penggunaan Leverage di Binance
Trader besar memanfaatkan leverage untuk memperbesar posisi mereka di Binance. Namun, ketika pasar bergerak melawan mereka, kerugian pun meningkat secara signifikan.
2. Unwind Carry Trade
Carry trade yang memanfaatkan selisih bunga antara yen Jepang dan aset berisiko mulai dibongkar. Ini memperburuk tekanan jual di pasar kripto.
3. Krisis Likuiditas
Likuiditas di pasar kripto yang memang sudah tipis membuat situasi semakin memburuk. Banyak posisi otomatis ditutup karena tidak bisa menahan kerugian.
4. Gagalnya Pemulihan di Pasar Emas/Perak
Upaya untuk memperbaiki kerugian melalui perdagangan emas dan perak gagal. Ini memaksa penjual untuk menjual aset lain, termasuk Bitcoin.
5. Aksi Jual Paksa
Akhirnya, aksi jual paksa terjadi dalam skala besar, memicu penurunan harga Bitcoin yang sangat tajam.
Kekhawatiran Keamanan Kuantum dan Volume ETF
Selain teori tentang penjual besar, ada juga kekhawatiran baru yang muncul terkait keamanan Bitcoin di masa depan. Charles Edwards dari Capriole menyebut bahwa penurunan harga ini bisa menjadi titik awal bagi perhatian serius terhadap ancaman komputasi kuantum. Ia menyebut bahwa Bitcoin mungkin perlu turun lebih rendah lagi agar komunitas mulai mengambil tindakan nyata terkait keamanan ini.
6. Ancaman Komputasi Kuantum
Komputasi kuantum memiliki potensi untuk memecahkan algoritma kriptografi yang saat ini digunakan oleh Bitcoin. Jika hal itu terjadi, keamanan jaringan Bitcoin bisa terancam.
7. Pernyataan Michael Saylor
Michael Saylor, salah satu pendukung Bitcoin terbesar, menyatakan bahwa tim keamanan Bitcoin sudah cukup kuat. Namun, Edwards menyebut ini sebagai “bendera palsu” tanpa tindakan nyata.
Sementara itu, aktivitas di ETF Bitcoin juga mencurigakan. Parker White dari DeFi Development Corp. mencatat bahwa ETF Bitcoin spot BlackRock (IBIT) mencatat volume harian tertinggi sepanjang masa, yaitu $10,7 miliar. Volume ini terjadi bersamaan dengan rekor premi opsi sebesar $900 juta. White menduga bahwa likuidasi besar-besaran didorong oleh opsi, bukan oleh leverage biasa.
8. Volume Rekor ETF Bitcoin
Volume perdagangan ETF Bitcoin BlackRock mencapai $10,7 miliar pada Kamis (5/2/2026), menandakan tekanan jual ekstrem.
9. Arus Keluar Bersih
Meski volume tinggi, ETF ini mengalami arus keluar bersih sebesar $175,48 juta atau sekitar 2.978 Bitcoin. Ini menunjukkan bahwa investor mulai menarik dana mereka.
10. Penurunan Harga Harian 15%
Bitcoin turun dari $73.100 ke $60.074 dalam satu hari, atau sekitar 15%. Ini adalah penurunan harian terbesar sejak kejatuhan FTX pada 2022.
Dampak pada Pasar dan Sentimen Investor
Penurunan harga Bitcoin ini tidak hanya memengaruhi pasar kripto, tapi juga aset berisiko lainnya. Likuiditas yang tipis membuat setiap gerakan harga terasa lebih ekstrem. Altcoin ikut terseret, dan sentimen investor langsung ambrol. Banyak trader kini skeptis terhadap setiap pemulihan, karena belum ada tanda-tanda kuat adanya aliran dana baru atau posisi pasar yang stabil.
11. Sentimen Pasar Runtuh
Sentimen investor turun ke level terendah sejak kejatuhan FTX. Skeptisisme tinggi terhadap pemulihan jangka pendek.
12. Tekanan pada Altcoin
Altcoin mengalami tekanan lebih besar dibandingkan Bitcoin. Banyak dari mereka turun lebih dari 30% dalam waktu singkat.
13. Pelemahan Aset Berisiko
Seluruh aset berisiko, bukan hanya kripto, ikut terdampak. Ini menunjukkan bahwa ada stres makroekonomi yang lebih luas.
Data Perbandingan Penurunan Bitcoin
| Tanggal | Harga Bitcoin | Persentase Penurunan |
|---|---|---|
| 30 Jan 2026 | $85.000 | – |
| 4 Feb 2026 | $78.000 | -8.2% |
| 5 Feb 2026 | $67.000 | -14.1% |
| 6 Feb 2026 | $60.000 | -10.4% |
Catatan: Data ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar.
Penurunan Bitcoin ke level $60.000 adalah peringatan keras bagi semua pelaku pasar. Bukan hanya soal volatilitas, tapi juga tentang ketidakpastian besar yang mungkin belum terlihat. Dengan banyaknya teori yang beredar, satu hal yang jelas: pasar kripto masih sangat sensitif terhadap gerakan besar dari entitas tak dikenal. Investor pun harus lebih waspada dari sebelumnya.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab individu masing-masing.