Kota Bogor baru saja mencatatkan prestasi penting di ranah pengelolaan sampah nasional. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah 2026 yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menerima penghargaan sebagai salah satu Kota Menuju Bersih dari Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas upaya konsisten dan terus menerus dalam meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di kota hujan tersebut.
Rakornas kali ini mengusung tema Kolaborasi untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan darurat sampah di Indonesia serta sebagai bagian dari perayaan Hari Peduli Sampah Nasional 2026. Selain menjadi ajang koordinasi, Rakornas juga menjadi momentum penghargaan bagi daerah-daerah yang dinilai memiliki kinerja baik dalam pengelolaan sampah.
Kota Bogor Masuk Daftar Kota Menuju Bersih
Penghargaan yang diterima Kota Bogor bukanlah hal yang mudah. Dari 98 kota yang dinilai di seluruh Indonesia, hanya 13 kota termasuk Bogor yang berhasil meraih predikat Kota Menuju Bersih. Dedie Rachim menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari kerja keras bersama seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, swasta, maupun warga.
Kategori Kota Menuju Bersih sendiri merupakan salah satu tahapan dari penilaian kota bersih yang akan menjadi dasar penilaian Piala Adipura di tahun-tahun mendatang. Meskipun belum sepenuhnya bersih, predikat ini menunjukkan bahwa kota tersebut sudah berada di jalur yang benar dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.
Bersama Bogor, ada 12 kota lainnya dan 22 kabupaten yang juga masuk dalam daftar Kota Menuju Bersih. Ini menunjukkan bahwa masih banyak daerah yang mulai menyadari pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.
Penilaian Kota Bersih: Tahapan Menuju Adipura
Penilaian kota bersih atau kotor bukan dilakukan sembarangan. Ada serangkaian kriteria ketat yang digunakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Penilaian ini menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu daerah layak mendapatkan penghargaan lingkungan, termasuk Piala Adipura.
-
Pengelolaan Sampah dari Hulu ke Hilir
Penilaian mencakup seluruh rantai pengelolaan sampah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pemrosesan akhir. Kota yang baik harus bisa menunjukkan sistem yang terintegrasi dan efisien. -
Kualitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
TPA menjadi salah satu indikator penting. TPA yang ramah lingkungan, menggunakan sistem controlled landfill atau sanitary landfill, mendapat nilai lebih dibandingkan yang masih menerapkan open dumping. -
Partisipasi Masyarakat
Keterlibatan warga dalam program pengelolaan sampah seperti pemilahan di sumber dan gerakan bersih-bersih sangat dinilai. Kota yang mampu melibatkan masyarakat secara aktif dianggap lebih siap menuju predikat bersih. -
Kebijakan dan Regulasi Daerah
Kebijakan lokal yang mendukung pengelolaan sampah, seperti regulasi pengurangan sampah plastik atau pengelolaan sampah rumah tangga, menjadi bagian dari penilaian. -
Inovasi dan Kolaborasi
Inisiatif inovatif dan kolaborasi lintas sektor juga menjadi pertimbangan. Kota yang mampu menciptakan solusi unik dan melibatkan berbagai pihak dalam pengelolaan sampah dinilai lebih unggul.
Tantangan Pengelolaan Sampah di Indonesia
Meski ada kemajuan, tantangan dalam pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat besar. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa baru sekitar 34 persen TPA di Indonesia yang meninggalkan praktik open dumping. Mayoritas TPA lainnya masih menggunakan metode yang kurang ramah lingkungan.
| Kategori TPA | Persentase | Keterangan |
|---|---|---|
| Open Dumping | 66% | Masih banyak ditemukan di daerah-daerah |
| Controlled Landfill | 25% | Pengelolaan terbatas, belum sepenuhnya aman |
| Sanitary Landfill | 9% | Pengelolaan paling ramah lingkungan |
Transformasi menuju sistem controlled landfill dan sanitary landfill menjadi kunci utama. Sistem ini tidak hanya mengurangi pencemaran tanah dan air, tetapi juga memungkinkan pengelolaan gas metana dan lindi secara lebih aman. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Strategi Kota Bogor dalam Pengelolaan Sampah
Kota Bogor tidak hanya dikenal sebagai kota hujan, tetapi juga sebagai kota yang serius dalam mengelola sampah. Ada beberapa strategi yang diterapkan agar bisa mencapai predikat Kota Menuju Bersih.
1. Program Pemilahan Sampah di Sumber
Salah satu program unggulan adalah pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Warga didorong untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik didaur ulang.
2. Pengembangan Bank Sampah
Bank sampah menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pengelolaan sampah di Bogor. Warga bisa menukar sampah yang mereka hasilkan dengan uang atau sembako. Ini tidak hanya mendorong partisipasi, tetapi juga memberdayakan ekonomi warga.
3. Penataan TPA dan TPS
TPA dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Bogor terus diperbaiki. Penataan dilakukan agar memenuhi standar lingkungan, termasuk pengelolaan lindi dan gas metana. Upaya ini juga mendukung target nasional untuk meninggalkan open dumping.
4. Edukasi dan Sosialisasi
Edukasi lingkungan dilakukan secara rutin melalui sekolah, komunitas, dan media lokal. Tujuannya agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
5. Kolaborasi dengan Pihak Swasta
Pemerintah Kota Bogor juga menjalin kerja sama dengan pihak swasta untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah. Kolaborasi ini mencakup pengangkutan, daur ulang, hingga pengembangan teknologi pengolahan sampah.
Harapan ke Depan
Predikat Kota Menuju Bersih bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari komitmen yang lebih besar. Kota Bogor berharap bisa terus berkembang dan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam hal pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Langkah selanjutnya adalah mempercepat transformasi menuju Kota Bersih sepenuhnya. Ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Dengan komitmen yang kuat dan strategi yang tepat, Bogor punya potensi besar untuk menjadi kota percontohan nasional.
Penghargaan ini juga menjadi motivasi bagi daerah lain untuk tidak tinggal diam. Semakin banyak kota yang bergerak maju dalam pengelolaan sampah, maka semakin besar pula harapan Indonesia untuk mencapai target keberlanjutan lingkungan yang lebih baik.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat sesuai dengan data dan kondisi yang dilaporkan pada tanggal 25 Februari 2026. Kebijakan, angka, dan predikat yang disebutkan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kebijakan nasional dan hasil evaluasi dari pemerintah pusat.