Penyakit kritis atau penyakit katastropik merupakan jenis penyakit yang memerlukan biaya pengobatan sangat tinggi dan perawatan jangka panjang. Bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas, menghadapi penyakit seperti kanker, jantung, atau gagal ginjal dapat menjadi beban finansial yang sangat berat.
Kabar baiknya, BPJS Kesehatan menjamin berbagai penyakit kritis dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). Sepanjang tahun 2024, pembiayaan penyakit katastropik oleh BPJS Kesehatan mencapai sekitar Rp37 triliun, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjamin kesehatan masyarakat.
Artikel ini akan membahas secara lengkap daftar penyakit kritis yang ditanggung BPJS Kesehatan, prosedur klaim, dan informasi penting lainnya bagi peserta PBI.
Penyakit Katastropik yang Ditanggung BPJS Kesehatan
Berdasarkan data BPJS Kesehatan, berikut adalah penyakit-penyakit kritis dengan pembiayaan tertinggi yang sepenuhnya ditanggung:
1. Penyakit Jantung
Penyakit jantung menjadi beban terbesar dalam pembiayaan BPJS Kesehatan dengan lebih dari 22,5 juta kasus dan pengeluaran mencapai Rp19,25 triliun pada tahun 2024.
Layanan yang ditanggung:
- Pemeriksaan dan diagnosis
- Pengobatan dengan obat-obatan
- Pemasangan ring jantung (stent)
- Operasi bypass jantung
- Perawatan intensif (ICU)
- Rehabilitasi jantung
2. Kanker
Kanker menempati posisi kedua dengan sekitar 4,24 juta kasus dan pengeluaran Rp6,49 triliun.
Layanan yang ditanggung:
- Deteksi dini (skrining) kanker serviks dan payudara
- Pemeriksaan laboratorium dan radiologi
- Kemoterapi
- Radioterapi
- Operasi pengangkatan tumor
- Perawatan paliatif
Jenis kanker yang ditanggung antara lain:
- Kanker payudara
- Kanker serviks (leher rahim)
- Kanker paru-paru
- Kanker usus besar (kolorektal)
- Leukemia (kanker darah)
3. Stroke
Stroke menempati urutan ketiga dengan hampir 3,9 juta kasus dan pengeluaran Rp5,82 triliun.
Layanan yang ditanggung:
- Penanganan darurat stroke
- CT Scan dan MRI
- Pengobatan dan terapi
- Rehabilitasi medik
- Fisioterapi
4. Gagal Ginjal
Gagal ginjal dengan kebutuhan cuci darah (hemodialisa) mencatat sekitar 1,45 juta kasus dengan pengeluaran Rp2,76 triliun.
Layanan yang ditanggung:
- Cuci darah (hemodialisa) rutin
- Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)
- Transplantasi ginjal
- Obat-obatan pendukung
- Pemeriksaan laboratorium berkala
5. Hemofilia dan Thalassemia
Penyakit kelainan darah ini juga ditanggung sepenuhnya:
- Hemofilia: 131.639 kasus, pengeluaran Rp1,11 triliun
- Thalassemia: 353.226 kasus, pengeluaran Rp794,46 miliar
Layanan yang ditanggung:
- Transfusi darah rutin
- Terapi kelasi besi
- Pemeriksaan laboratorium berkala
- Obat-obatan pendukung
| Jenis Penyakit | Jumlah Kasus (2024) | Pengeluaran BPJS | Layanan Utama |
|---|---|---|---|
| Jantung | 22.550.047 | Rp19,25 triliun | Ring, bypass, ICU |
| Kanker | 4.240.719 | Rp6,49 triliun | Kemoterapi, radioterapi, operasi |
| Stroke | 3.899.305 | Rp5,82 triliun | CT Scan, rehabilitasi |
| Gagal Ginjal | 1.448.406 | Rp2,76 triliun | Cuci darah, transplantasi |
| Hemofilia | 131.639 | Rp1,11 triliun | Faktor pembekuan darah |
| Thalassemia | 353.226 | Rp794,46 miliar | Transfusi, kelasi besi |
| Leukemia | 168.351 | Rp599,91 miliar | Kemoterapi, transplantasi sumsum |
| Sirosis Hepatis | 248.373 | Rp463,52 miliar | Pengobatan, transplantasi hati |
Penyakit Kronis Lainnya yang Ditanggung
Selain penyakit katastropik, BPJS Kesehatan juga menanggung berbagai penyakit kronis:
- Diabetes Mellitus – Termasuk insulin dan obat-obatan
- Hipertensi – Kontrol rutin dan pengobatan
- Asma – Pengobatan dan nebulizer
- Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
- Epilepsi – Pengobatan jangka panjang
- Skizofrenia – Pengobatan dan konsultasi psikiater
- Sindrom Lupus Eritematosus (SLE)
- HIV/AIDS – Terapi antiretroviral (ARV) tanpa komplikasi
- Tuberkulosis (TB) – Pengobatan lengkap
Layanan Kesehatan yang Ditanggung BPJS
Pemeriksaan dan Skrining
- Pemeriksaan gula darah
- Pemeriksaan IVA untuk deteksi dini kanker serviks
- Pap smear
- Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan
- Skrining kesehatan berkala
Alat Kesehatan
BPJS Kesehatan juga menanggung biaya alat kesehatan tertentu dengan ketentuan spesifik:
- Kacamata dengan syarat tertentu
- Alat bantu dengar
- Protesa alat gerak
- Alat bantu mobilitas (kursi roda, kruk)
Prosedur Klaim untuk Peserta PBI
Langkah 1: Pastikan Status Kepesertaan Aktif
Sebelum berobat, pastikan status KIS PBI Anda aktif dengan mengecek melalui:
- Aplikasi Mobile JKN
- Website cekbansos.kemensos.go.id
- Care Center 165
Langkah 2: Kunjungi FKTP
Datang ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang terdaftar, seperti puskesmas atau klinik yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Langkah 3: Dapatkan Rujukan
Jika memerlukan perawatan lanjutan untuk penyakit kritis, FKTP akan memberikan surat rujukan ke rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Langkah 4: Perawatan di Rumah Sakit
- Tunjukkan kartu KIS dan surat rujukan
- Daftar di loket BPJS rumah sakit
- Ikuti prosedur perawatan yang ditetapkan
- Biaya akan langsung ditanggung BPJS sesuai tarif INA-CBGs
Pengecualian Rujukan
Untuk kondisi darurat medis, pasien dapat langsung ke IGD rumah sakit tanpa rujukan. Rumah sakit wajib memberikan pertolongan pertama, kemudian prosedur administratif dapat diurus setelah kondisi stabil.
Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Meskipun cakupan BPJS sangat luas, ada beberapa kondisi yang tidak ditanggung:
- Penyakit akibat wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB)
- Perawatan kecantikan dan estetika
- Perawatan gigi kosmetik (pemasangan behel untuk estetika)
- Penyakit akibat tindak pidana
- Penyakit atau cedera akibat menyakiti diri sendiri
- Penyakit akibat konsumsi alkohol atau ketergantungan obat
- Pengobatan mandul atau infertilitas
- Pelayanan kesehatan di luar negeri
- Pengobatan dan tindakan medis eksperimental
- Pengobatan komplementer, alternatif, dan tradisional
- Pelayanan kesehatan di fasilitas yang tidak bekerja sama dengan BPJS
- Penyakit akibat kecelakaan kerja (ditanggung BPJS Ketenagakerjaan)
- Penyakit akibat kecelakaan lalu lintas (ditanggung Jasa Raharja)
Program Skrining Kesehatan
BPJS Kesehatan menyelenggarakan program skrining untuk mendorong deteksi dini penyakit, terutama bagi kelompok lansia yang menjadi pasien terbanyak penyakit katastropik.
Jenis skrining yang tersedia:
- Skrining riwayat kesehatan
- Pemeriksaan tanda vital
- Skrining gula darah
- Skrining HIV/AIDS
- Skrining TBC
- Skrining kanker serviks (IVA/Pap smear)
- Skrining kanker payudara (SADANIS)
Cara akses skrining:
- Buka aplikasi Mobile JKN
- Pilih menu “Skrining Kesehatan”
- Isi kuesioner yang disediakan
- Dapatkan rekomendasi pemeriksaan
- Kunjungi FKTP untuk pemeriksaan lanjutan
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apakah cuci darah ditanggung BPJS PBI?
Ya, cuci darah atau hemodialisa bagi pasien gagal ginjal sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan, termasuk untuk peserta PBI. Pasien dapat melakukan cuci darah rutin sesuai jadwal yang ditentukan dokter.
Apakah kemoterapi gratis untuk peserta PBI?
Ya, kemoterapi untuk pasien kanker ditanggung BPJS Kesehatan tanpa biaya tambahan bagi peserta PBI, sepanjang mengikuti prosedur rujukan yang berlaku dan dilakukan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS.
Berapa kali cuci darah yang ditanggung BPJS dalam sebulan?
BPJS Kesehatan menanggung cuci darah sesuai kebutuhan medis pasien yang ditentukan oleh dokter spesialis, umumnya 2-3 kali per minggu atau sekitar 8-12 kali per bulan.
Apakah operasi jantung ditanggung BPJS?
Ya, operasi jantung termasuk pemasangan ring (stent) dan operasi bypass ditanggung BPJS Kesehatan. Pasien harus melalui prosedur rujukan dari FKTP ke rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah jantung.
Bagaimana jika obat yang dibutuhkan tidak tersedia di rumah sakit BPJS?
BPJS menggunakan Formularium Nasional (Fornas) sebagai acuan obat yang ditanggung. Jika obat tertentu tidak tersedia, dokter dapat mengganti dengan obat setara atau mengajukan permohonan khusus ke BPJS Kesehatan.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan data BPJS Kesehatan dan regulasi yang berlaku hingga Januari 2026. Daftar penyakit dan layanan yang ditanggung dapat berubah sesuai kebijakan pemerintah. Untuk informasi paling akurat mengenai cakupan manfaat, hubungi Care Center BPJS Kesehatan di nomor 165 atau kunjungi kantor cabang BPJS Kesehatan terdekat.
Penutup
BPJS Kesehatan melalui program JKN memberikan perlindungan komprehensif terhadap berbagai penyakit kritis, termasuk bagi peserta PBI yang iurannya ditanggung pemerintah. Dengan pembiayaan penyakit katastropik yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, program ini menjadi jaring pengaman sosial yang sangat penting bagi masyarakat tidak mampu.
Manfaatkan layanan skrining kesehatan yang disediakan BPJS untuk mendeteksi penyakit sejak dini, karena penanganan lebih awal akan meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi beban biaya pengobatan. Jangan ragu untuk mengakses layanan kesehatan yang menjadi hak Anda sebagai peserta JKN.